KEDIRI | duta.co - Seiring acara Halal Bi Halal dan Pelantikan PCNU Kota Kediri masa bakti 2016 – 2021, Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar mengajak segenap warga Nahdliyin untuk bersama – sama mewujudkan revolusi mental agar kita semua menjadi umat yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Dalam pidatonya dihadapan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj di Ponpes Al – Amin Ngasinan Ngronggo, Senin (1/8), Mas Abu berharap melalui Pengurus NU untuk melakukan pembinaan melalui pendidik di tingkat diniyyah.
Terlihat wajah sumringah, saat Mas Abu menyambut kedatangan Kang Said, sebutan Ketua Umum PBNU dihadapan sejumlah ulama dan Tokoh NU. Hal itu disampaikan dalam kata sambutan, saat Mas Abu sowan ke kediaman Kang Said menjelang pemilihan Walikota Kediri. “Alhamdullilah kyai, dulu saat saya sowan dan mendapat doa restu menjelang pemilihan walikota, saat ini telah berdiri di hadapan panjenengan,” kata Mas Abu.
Kemudian, Mas Abu pun meminta doa restu kepada Ketua Umum PBNU, agar Kota Kediri dan segenap Pengurus PCNU mampu mewujudkan program kerja telah digagas pemerintah kota. Ada tiga program yang akan dilaksanakan, di bidang pendidikan, kesehatan dan menciptakan ekonomi kerakyatan. “Kami ingin mengajak Pengurus PCNU untuk mengawasi, membina dan mewujudkan pendidikan sejak usia diniyyah, bahwa anak – anak sekarang lebih memilih les mata pelajaran dibanding belajar agama untuk pembinaan mental dan watak,” imbuh Walikota Kediri ini.
Bagaimana dampak globalisasi, kini mengancam seluruh sendi masyarakat, tentunya menjadi tantangan besar bagi Warga Kota Kediri untuk dilakukan antisipasi. “Keberadaan masjid dan mushola, kemudian tempat pendidikan seperti TPA dan TPQ harus dihidupkan dan kami atas nama pemerintah kota akan memberikan dukungan penuh,” tegas Mas Abu disambut tepuk tangan hadirin.
Sambutan disampaikan Mas Abu pun mendapat respon baik dari Kang Said saat memberikan ceramah, mengisahkan Khilafah Turki Utsmani berakhir pada 3 Maret 1924, menjadikan Umat Islam terpuruk dalam segala bidang karena dijajah negara barat. “Ketika para ulama’ tidak menemukan kata sepakat, akhirnya muncullah kelompok Agen Yahudi berusaha menghancurkan khilafah dari dalam di Tahun 1924, Khilafah Turki bubar kemudian sistem pemerintahan Islam dibangun sejak jaman Sayyidina Abu Bakar Al Sidiq sampai Khalifah Abdul Hamid yang dibuang ke Jerman, berubah menjadi sistem pemerintahan republik. Adanya larangan Umat Islam berangkat haji, tidak boleh memakai baju gamis, dilarang adzan dengan Bahasa Arab, sampai souvenir gambar khalifah dilarang keras diperjualbelikan,” jelas Kang Said.
Atas cuplikan kejadian di atas, KH. Said Aqil Siradj meminta para ulama dan kyai untuk bersatu dan memikir umat dalam rangka mewujudkan pembangunan di segala bidang. “Salah satunya, kami telah melakukan kerjasama pemberantasan korupsi dengan KPK. Bahwa NU mengharamkan segala bentuk korupsi dan siap mendukung pemerintah untuk mengusut tuntas kasus – kasus korupsi,” pesan Kang Said dalam kata penutup.
Terlihat wajah sumringah, saat Mas Abu menyambut kedatangan Kang Said, sebutan Ketua Umum PBNU dihadapan sejumlah ulama dan Tokoh NU. Hal itu disampaikan dalam kata sambutan, saat Mas Abu sowan ke kediaman Kang Said menjelang pemilihan Walikota Kediri. “Alhamdullilah kyai, dulu saat saya sowan dan mendapat doa restu menjelang pemilihan walikota, saat ini telah berdiri di hadapan panjenengan,” kata Mas Abu.
Kemudian, Mas Abu pun meminta doa restu kepada Ketua Umum PBNU, agar Kota Kediri dan segenap Pengurus PCNU mampu mewujudkan program kerja telah digagas pemerintah kota. Ada tiga program yang akan dilaksanakan, di bidang pendidikan, kesehatan dan menciptakan ekonomi kerakyatan. “Kami ingin mengajak Pengurus PCNU untuk mengawasi, membina dan mewujudkan pendidikan sejak usia diniyyah, bahwa anak – anak sekarang lebih memilih les mata pelajaran dibanding belajar agama untuk pembinaan mental dan watak,” imbuh Walikota Kediri ini.
Bagaimana dampak globalisasi, kini mengancam seluruh sendi masyarakat, tentunya menjadi tantangan besar bagi Warga Kota Kediri untuk dilakukan antisipasi. “Keberadaan masjid dan mushola, kemudian tempat pendidikan seperti TPA dan TPQ harus dihidupkan dan kami atas nama pemerintah kota akan memberikan dukungan penuh,” tegas Mas Abu disambut tepuk tangan hadirin.
Sambutan disampaikan Mas Abu pun mendapat respon baik dari Kang Said saat memberikan ceramah, mengisahkan Khilafah Turki Utsmani berakhir pada 3 Maret 1924, menjadikan Umat Islam terpuruk dalam segala bidang karena dijajah negara barat. “Ketika para ulama’ tidak menemukan kata sepakat, akhirnya muncullah kelompok Agen Yahudi berusaha menghancurkan khilafah dari dalam di Tahun 1924, Khilafah Turki bubar kemudian sistem pemerintahan Islam dibangun sejak jaman Sayyidina Abu Bakar Al Sidiq sampai Khalifah Abdul Hamid yang dibuang ke Jerman, berubah menjadi sistem pemerintahan republik. Adanya larangan Umat Islam berangkat haji, tidak boleh memakai baju gamis, dilarang adzan dengan Bahasa Arab, sampai souvenir gambar khalifah dilarang keras diperjualbelikan,” jelas Kang Said.
Atas cuplikan kejadian di atas, KH. Said Aqil Siradj meminta para ulama dan kyai untuk bersatu dan memikir umat dalam rangka mewujudkan pembangunan di segala bidang. “Salah satunya, kami telah melakukan kerjasama pemberantasan korupsi dengan KPK. Bahwa NU mengharamkan segala bentuk korupsi dan siap mendukung pemerintah untuk mengusut tuntas kasus – kasus korupsi,” pesan Kang Said dalam kata penutup.

