Kediri (beritajatim.com) - Ribuan warga di Kediri rela berdesak-desakan demi berebut gunungan dan uang koin, dalam kirab pusaka, perayaan tahun baru islam 1 muharam 1438 hijriyah.
Gunungan ini berupa uang, jajanan pasar, serta hasil bumi seperti sayuran dan buah buahan. Gunungan yang diperebutkan ini sebelumnya dikirab mengelilingi sebagian jalan di Kota Kediri. Tak hanya orang tua, anak kecil pun turut dalam kerumunan warga.
Selain berebut gunungan, warga juga berebut untuk mendapatkan uang koin, pecahan Rp 1.000 yang disebarkan oleh pihak panitia, dari Paguyuban Budaya di Kediri Garuda Mukha, dalam acara kirab pusaka.
Menurut Susiana, salah seorang warga, ia dan keluarganya ikut berebut gunungan dan uang koin karena percaya akan mendatangkan berkah.
Selain itu, menurutnya, acara tersebut sebagai cara untuk nguri nguri budaya Jawa.
Selain memperingati tahun baru islam, acara rebutan gunungan dan rebutan koin atau yang disebut tradisi dono weweh tersebut juga sebagai bentuk pelestarian budaya nusantara, serta berdoa untuk kemakmuran negara, kemakmuran rakyat, kesehjateraan dan kerukunan antar manusia.
Selain itu, agar lebih maju dan menjadi pribadi lebih baik ditahun baru ini.
“Gerebek suroan tahun ini ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain kirab pusaka, dan hasil bumi, kita juga mengirab wayang semar raksasa,” ujar Ki Tono Setyo Bimo, selaku Ketua Paguyuban Budaya, Minggu (2/10/2016).
Dalam gelaran tersebut, juga turut dalam kirab sejumlah kesenian daerah seperti jaranan, reog, barongan dan kesenian daerah lainnya.
