KBRN, Kediri: Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar meresmikan Masjid Auliya' Setono Gedong, di Kota Kediri, Kamis (8/6/2017) guna memberikan fasilitas dan sarana prasarana memadai bagi banyaknya peziarah yang datang di kawasan tersebut.
"Masjid Auliya' ini perlu dibangun kembali karena banyak didatangi oleh masyarakat yang berziarah. Masjid ini harus besar karena puluhan ribu orang datang berziarah dan pasti mampir ke masjid ini," ujarnya, saat meresmikan Masjid Auliya' Setono Gedong, di Kota Kediri, Kamis (8/6/2017).
Menurut dia, Masjid Auliya' ini memiliki arsitektur yang bagus setelah dibangun kembali. Bahkan keberadaannya mampu membuktikan bahwa tempat ibadah umat Islam ini memang masjid yang representatif.
"Arsitekturnya bagus dan menjadi lebih luas. Pasti akan semakin banyak orang yang akan berkunjung ke masjid ini," katanya.
Dia meyakini, setelah diresmikan Masjid Auliya' ini akan dikunjungi semakin banyak lagi jamaah dari berbagai daerah. Apalagi Pemkot Kediri memang sengaja membangunnya dengan konsep tersebut. Tujuannya, untuk mengajak orang datang ke masjid sehingga perilaku maksiat di Kota Kediri semakin berkurang.
"Terlebih, saat ini semakin banyak TPA dan TPQ di Kota Kediri," katanya.
Dia berharap, dengan semakin banyaknya peziarah di Kawasan Setono Gedong akan berdampak positif bagi ekonomi Kota Kediri. Khususnya terhadap warga Setono Gedong.
"Apalagi di kawasan Setono Gedong ini, juga terdapat Makam Mbah Wasil yang banyak dikunjungi peziarah karena merupakan salah satu penyebar Agama Islam di Kota Kediri," katanya.
Dalam kesempatan ini, orang nomor satu di Kota Kediri ini juga menyampaikan Program Pemberdayaan Masyarakat (Prodamas) di mana dengan program ini masjid maupun musholla di setiap kelurahan dapat diperbaiki.
"Dana Prodamas ini banyak digunakan untuk perbaikan masjid dan musholla. Jadi tidak ada lagi masjid ataupun musholla di Kota Kediri yang tidak bagus," imbuhnya.
Peresmian masjid tiga lantai ini ditandai dengan pemukulan bedug oleh Wali Kota Kediri dan pemotongan bunga oleh Wakil Walikota Kediri Ning Lik.