

KEDIRI KOTA – Bagaimana sejarah kota Jawa tempo dulu? Melalui foto-foto di kartu pos, kehidupan masyarakat Jawa abad 19 terekam dengan baik. Mulai dari sejarah unsur pembentuk kota, kecantikan perempuan, kebahagian keluarga, pengasuhan anak, pernikahan, kekayaan, dan kemiskinan.
Sejarawan Belanda, Olivier Johannes Raap memaparkan dalam bedah bukunya, “Soeka-Doeka Djawa Tempo Doeloe” dan “Kota di Djawa Tempo Doeloe” di hall kampus II Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Jawa Timur, Sabtu (10/10). Kegiatan tersebut digelar program studi pendidikan sejarah.
Penerbitan dua buku tersebut berawal dari hobi Olivier mengoleksi kartu pos. Sebab, kartu pos masa lampau memuat foto-foto bersejarah kehidupan Jawa. Dia mengungkapkan, sebagian besar dokumentasi itu difoto oleh Kassian Cephas, fotogafer pribumi pertama.
Zaman itu, Kassian menjadi fotografer di keraton Solo dan Jogjakarta. Karena terbentur tradisi keraton, ia harus memakai nama samaran Ali S. Cohan. Itu agar bisa memotret rakyat jelata. “Keraton tidak suka disandingkan dengan rakyat jelata,” ungkap pria yang akrab disapa Mas Oli ini.
Karena itu, dalam bukunya, banyak ditemukan foto-foto rakyat biasa. Misalnya, yang paling vulgar adalah foto perempuan Jawa tanpa busana. Selain itu, Olivier juga mengoleksi foto tradisi perempuan zaman dulu. “Ada orang mencari kutu rambut (petan). Ada juga foto saat mengasuh anak,” terangnya.
Di bagian lain, Olivier menjelaskan, banyak permainan tradisional Jawa yang diadopsi dari Belanda atau Eropa. Misalnya Slekdur (ular naga), Gobak Sodor (go back to door), dan Hinkelen (engklek).
“Balap karung dan panjat pinang juga termasuk di dalamnya,” kata pria berlatar belakang pendidikan arsitektur universitas di Delft, Belanda ini.
Dalam bukunya, Olivier tidak hanya menonjolkan suasana gembira. Namun beberapa foto juga menunjukkan suasana duka. Misalnya pemberangkatan ke pemakaman dan pernikahan orang Jawa. Dulu, sebagian besar, banyak pasangan muda yang dijodohkan orang tuanya.
Sementara di buku sejarah kota, pria 49 tahun ini menerangkan, unsur-unsur pembentukan kota di Jawa. Total dia meneliti 41 kota. Unsur itu di antaranya alun-alun, pasar, ruang hijau, masjid agung, pemukiman, jembatan, dan jalan air.
Di bab alun-alun, Olivier menjelaskan, bagaimana sejarah pembangunan taman di pusat kota. Salah satunya adalah bangunan di sekitarnya. Yakni masjid agung di sebelah barat, sedangkan rumah bupati dibangun di sisi selatan.
Meski demikian, menurut Olivier, posisinya tidak persis seperti itu. Misalnya di Kediri. Pendapanya justru berada di sisi timur alun-alun. Versi sejarawan ini, dahulu di sisi selatan alun-alun adalah bekas pemakaman. “Karena itu, bupati tidak mau membangun rumah di sana,” ungkapnya.
Fenomena lain adalah pohon beringin di tengah alun-alun. Menurut Olivier, usia pohon tersebut lebih tua dibandingkan bangunan di sekitarnnya. Karena itu, sebenarnya, pendirian pendapa mengikuti keberadaan pohon beringin. “Pohonnya sudah ada lebih dulu. Baru dibangun alun-alun, pendapa atau masjid,” ujarnya. (baz/ndr)