Walikota Kediri Hadiri FGD dan Visitasi Transformasi STAIN Jadi IAIN

Kediri Dalam Berita | 04/09/2017

Minggu, 03 September 2017  10:03:51 WIB

Reporter : Nanang Masyhari

 

Walikota Kediri Hadiri FGD dan Visitasi Transformasi STAIN Jadi IAIN
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kediri (beritajatim.com) - Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar menghadiri pembukaan Focused groups discussion (FGD) dan visitasi transformasi STAIN menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. Acara ini berlangsung di Gedung Rektorat Lantai 4 STAIN Kota Kediri, Minggu (2/9/2017) pagi.

 



"Di Kota Kediri ada lonjakan-lonjakan  istimewa sekitar 4 tahun. Dan tepat pada 2014, saya mencoba menggali potensi-potensi yang ada di Kota Kediri. Karena dulu banyak sekali orang bilang bahwa disini banyak potensinya tapi belum bisa spesifik. Sehingga saya meminta bantuan Prof. Renald Khasali akhirnya di ketahui bahwa Kota Kediri ini memiliki 3 potensi yang menonjol yaitu dari pendidikan, perdagangan dan jasa," ungkap Abdullah Abu Bakar.

Bicara mengenai pendidikan, masih kata Mas Abu, panggilan akrabnya, pendidikan di Kota Kediri dimulai dari tingkat TK, SD, SMP sudah bagus dan setara dengan Surabaya dan Malang. Menurutnya, seandainya Kota Kediri diadu ketangkasan dengan anak Bandung atau Surabaya, pelajar Kota Kediri tak kalah bersaing. Selain itu orang Kediri banyak diterima di universitas besar di luar kota. 

"Kota Kediri sejak dulu rame.  Pada jaman kolonialisme Belanda, Kediri menjadi sentra industri gula, kemudian pada era kemerdekaan bertambah dengan adanya Gudang Garam (GG). Dengan berdirinya pabrik ini dan pabrik rokok lainnya orang-orang  mulai menawarkan jasanya," ungkap Mas Abu.

Selama 57 tahun cikal bakal STAIN berdiri dan menjadi kebutuhan masyarakat bukan hanya masyarakat Kota Kediri saja. 

"Seperti yang kita lihat sekarang Kota Kediri semakin padat, banyak siswa yang ingin sekolah ataupun kuliah di Kota Kediri.Dengan berdirinya sekolah ataupun kampus ini juga akan memberikan dampak perekonomian bagi masyarakat sekitar. Selain itu alhamdulillah IPM Kota Kediri semakin meningkat jauh di atas Jawa Timur", tambahnya.

Di kesempatan terakhir Mas Abu berharap banyak agar Kota Kediri menjadi Kota Pendidikan, dan STAIN pun bisa segera menuju IAIN. "Semoga diberikan kelancaran. Setelah itu kita harus memikirkan kekurangan dan apa yang harus di tambah atau perbaiki. Saya minta jangan terlalu banyak diskusi, karena dengan banyak diskusi akan menimbulkan hoaks juga. Yang terpenting kita hanya butuh duduk bersama dan mencari solusi untuk memecahkan masalah," pungkasnya.

Asisiten Deputi Bidang Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan Kementrian Sekretariat Negara Hanung Cahyono  juga menyampaikan pesan. "Berkembangnya suatu daerah yaitu atas dukungan dari pimpinan daerah sangat penting, sama halnya dengan STAIN menjadi IAIN. Selain itu pula adanya pernyataan dukungan dari Walikota dan Gubernur secara lisan dan tertulis," ungkapnya

Perlu di ketahui ada 8 STAIN dari Indonesia yang akan menjadi IAIN. Nantinya akan  diproses dan harus melalui Peraturan Presiden, setelah itu akan menyampaikan analisis kepada Presiden dan nantinya akan terbit ijin prakarsa.

Dalam acara ini pula di hadiri oleh beberapa narasumber dari tim visitasi Kementerian Sekretariat Negara, Ditjen Anggaran dan Biro Ortala Kementerian Agama RI drs. Afrizal Zen, 
Hanung Cahyana,. SH.,LL., MM; Dyah Ariyanti, SH, MH; Deriansyah RS, SH, MH dan Mujjibudda'wah,  Kepala Kemenag Kota Kediri A. Zuhri, lurah Rejomulyo Jahroni, Kepala MAN 1 Enim K. , perwakilan pondok Al Falah dan Sunan Ampel serta civitas akademika STAIN Kediri.