Kediri (beritajatim.com) - Banjir rutinan yang melanda ratusan masyarakat di Lingkungan Polaman, Kelurahan Manisrenggo, Kecamatan Kota Kediri langsung mendapatkan respon dari pemerintah daerah setempat. Bahkan, Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar terjun ke lokasi.
Mas Abu--panggilan Abdullah Abu Bakar datang untuk meninjau warganya yang terdampak banjir. Orang nomor satu di Kota Kediri ini juga memberikan bantuan logistik kepada mereka, Kamis (25/1/2018) petang.
Walikota berusia 37 tahun ini datang tidak sendirian. Dia ditemani oleh sejumlah kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Diantaranya Kepala DLHKP Kota Kediri Didik Catur dan Kepala Bidang Pertamanan Rony Yusianto, Plt Kepala DPU dan Perkim Sunyata. Selain itu juga ada camat dan kepala kelurahan setempat.
Menurut Mas Abu, di Lingkungan Polaman, Kelurahan Manisrenggo memang menjadi daerah langganan banjir setiap musim penghujan. Dalam satu tahun bencana banjir terjadi satu hingga dua kali pada saat hujan turun deras.
"Ini akan kita atasi. Tetapi sebelum itu, perlu diketahui bahwa di Manisrenggo ini merupakan daerah tangkapan air. Dulu disini banyak rawa. Sehingga setiap musim hujan, kalau besar, kondisinya seperti ini. Tetapi karena kebutuhan permukiman, daerah tersebut akhirnya menjadi kawasan perumahan," kata Mas Abu.
Masih kata Mas Abu, salain menjadi daerah tanggapan air, kondisi Manisrenggo diperparah dengan adanya beberapa sungai yang tidak bisa dimasuki alat berat. Sehingga pemerintah kesulitan untuk melakukan normalisasi. "Kalau sungainya ini terjaga, maka genangan air disini bisa cepat hilang," imbuh Mas Abu.
Selain sungai yang meluber ke jalan dan permukiman warga yang kebanjiran, Mas Abu juga melihat sumber banjir akibat pendangkalan sungai. Akses jalan menuju lokasi ini hanya bisa dilalui lewat lahan tebu. Oleh karena itu, pihaknya akan bernegosiasi dengan pemilik untuk mendatangkan alat berat menuju ke lokasi.
Untuk diketahui, ada 105 rumah warga di kawasan perumahan dan 55 rumah warga di perkampungan yang terdampak banjir. Masyarakat terisolir karena satu satunya akses jalan keluar terendam air hingga ketinggian 50-70 centimeter (cm). BPBD setempat terpaksa mengevaluasi warga menggunakan perahu.
Di hadapan Walikota Kediri, masyarakat berharap akses jalan keluar melintasi rel kereta api di sebelah timur bisa dibuka. Jalan setapak tersebut ditutup oleh PT KAI Daop 7 Madiun karena membayakan.
Menanggapi pertanyaan warga, Mas Abu berjanji akan segera berkomunikasi dengan PT KAI. Pihaknya akan datang ke kantor Daop 7 Madiun untuk memintakan izin akses jalan warga.
