Kopi Tahu dan Cerita Wali Kota Kediri 'Eksekusi' Persoalan Warga

Kediri Dalam Berita | 27/10/2015

DetikNews

 

 

Kopi Tahu dan Cerita Wali Kota Kediri Eksekusi Persoalan WargaFoto: Dok Pemkot Kediri

Jakarta - Ada program 'Kopi Tahu' di Kediri. Program yang digagas Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, bukan jualan kopi dan tahu, tapi rembuk warga dengan mengambil kearifan lokal. Seperti apa programnya?

Jumat (23/10/2015) malam, Abu--panggilan Abdullah Abu Bakar, hadir di Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto. Ia mengajak sejumlah pejabat dinas bertemu dengan ratusan warga. Di forum itu, warga bebas menyampaikan unek-uneknya terkait pembangunan kota.

"Suguhannya cuma kopi dan tahu. Orang sini suka ngopi. Nah kalau tahu itu kan makanan andalan Kediri," kata Abu mengartikan maksud program Kopi Tahu kepada detikcom, Senin (26/10/2015).

Kopi Tahu dilakukan sejak April tahun ini atau setahun setelah Abu dilantik. Jadwalnya memang tidak tentu tapi pasti. Kadang seminggu 2 kali, kadang semiggu sekali. Abu dan pejabat berkeliling ke kelurahan-kelurahan.

Dengan cara ini, kita jadi cepat menerima input. Masalah-masalah di bawah apa dan solusinya seperti apa. Nah kalau solusi belum ketemu, baru dibawa ke level Pemkot," jelas pria 35 tahun ini.

Di awal program, pejabat dinas agak canggung. Menurut Abu, hal itu bisa dimaklumi karena sebelumnya mereka lebih sering berhadapan dengan bawahan, bukan warga secara langsung. Lama-kelamaan, semua terbiasa.

"Mungkin, pejabat dinas khawatir disalahkan. Tapi selalu saya bilang, bahwa forum itu bukan untuk saling menyalahkan, melainkan mencari jalan keluar bersama," tambah pria bergelar sarjana ekonomi ini.

Apa hasil riil Kopi Tahu? Abu mencontohkan, bagi warga Dermo, kebutuhan akan ruang Posyandu plus asupan gizi sangat dibutuhkan. Ada juga yang minta kendaraan sampah karena angkutan di kelurahan kurang. 

"Langsung dicatat oleh Satker (Satuan Kerja). Eksekusinya di dinas. Kami segera realisasikan," ungkap penghobi fotografi ini.

Kopi Tahu membuat warga lebih dekat dengan pemimpin atau pejabat. Abu memang ingin tidak berjarak seperti saat dirinya belum menjadi wali kota. Tak heran, undangan pribadi dari warga pun ia datangi. Namun karena harus mengatur waktu, kadang pria yang pernah bekerja sebagai sales kartu kredit ini hanya punya waktu sebentar untuk menengok hajatan warga.

Cita-cita Abu tidak muluk-muluk, hanya menjadikan Kediri sebagai kota kecil yang nyaman. Lingkungan RT sudah dibenahi, pusat kota akan ditata ulang. 4 Tahun mendatang, dia berharap kota kelahirannya itu jauh lebih baik dibanding sekarang. 
(yds/try)