Manusuk Sima Napak Tilas Lahirnya Kota Kediri yang Penuh Sejarah

Kediri Dalam Berita | 29/07/2019

logo

Prosesi acara manusuk sima dan jamasan. (eko Arif s /JatimTimes)

Prosesi acara manusuk sima dan jamasan. (eko Arif s /JatimTimes)


 

Alunan gamelan Jawa mengiringi prosesi manusuk sima dalam rangkaian Hari Jadi Kota Kediri ke-1140, yang digelar Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) di Taman Tirtoyoso, Sabtu (27/7/19).

Konon, Upacara Manusuk Sima ini dilatarbelakangi pemberian anugerah oleh Kerajaan Mataram terhadap warga Kuwak, yang salah satu bagian dari wilayahnya, ditetapkan sebagai tanah sima. 

Prosesi Manusuk Sima sendiri merupakan napak tilas sebuah peristiwa yang telah ada 1140 tahun yang lalu, untuk mengetahui sejarah berdirinya Kota Kediri berdasarkan Prasasti Kwak yang ditemukan di daerah Kuwak Kota Kediri pada tanggal 27 Juli 879 M.

Dalam sambutannya Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar menjelaskan, bahwa manusuk sima ini mengandung arti penetapan sawah pategalan seluas empat tampah. Pelaksanaan penetapan sawah pategalan ini pada masa kejayaan Raja Rakai Kayuwangi, tanah sima ini sangat subur, dialiri air patirtan tirtoyoso sehingga dapat mensejahterakan masyarakat Kota Kediri pada 1140 tahun yang lalu.

"Selama 1140 tahun, Kota Kediri telah mengalami beberapa kali transformasi. Dimulai dari dijadikannya Kediri sebagai ibukota kerajaan, kemudian dengan memiliki sebuah dermaga kapal pada masa itu, Kota Kediri menjadi kota dagang dengan Arab, Cina, Malaka dan Nusantara,"ujarnya.

Walikota Kediri menambahkan, transformasi selanjutnya ada di bidang ekonomi, mulai dari manufaktur lama yaitu pabrik gula, kemudian manufaktur baru yaitu industri rokok hingga saat Ini menjadi kota berbasis jasa.

“Dari berbagai transformasi ini, yang harus kita syukuri bersama adalah kisah dari perjalanan panjang Kota Kediri yang selalu membawa perubahan dan membawa kebaikan untuk masyarakat,” imbuh Walikota Kediri.

Orang nomor satu di Kota Kediri ini juga berpesan untuk selalu menjaga kebudayaan leluhur ditengah keberagaman, modernisasi dan kemajuan teknologi saat ini. Seperti yang pernah disampaikan Presiden Pertama Indonesia Soekarno, jas merah Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

“Alhamdulillah karena terus melestarikan sejarah, Kota Kediri telah memperoleh berbagai hal positif, dimulai dari keharmonisan seluruh masyarakatnya dengan perbedaan yang ada. Semangat inilah yang Pemerintah Kota Kediri abadikan sebagai tagline dari Kota Kediri yaitu Harmoni Kediri The Service City, sebuah kota harmonis dengan pelayanan prima dari pemerintah kepada masyarakatnya,"tandasnya.

Sementara itu ditempat yang sama Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Nur Muhyar menuturkan, upacara manusuk sima ini juga sebagai wujud syukur atas anugerah yang dilimpahkan kepada masyarakat Kota Kediri. Selain itu juga menjadi salah satu cara melestarikan budaya sejarah yang dimiliki oleh Kota Kediri.

"Alhamdulillah kita tetap bisa melaksanakan upacara ini untuk menjaga budaya-budaya luhur bangsa kita di tengah kemajuan teknologi dan kehidupan yang serba modern. Harapan besarnya, ini bisa memberi motivasi kepada kita semua karena memiliki tradisi dan sejarah besar,"tuturnya.

Perlu diketahui, Manusuk Sima ini selalu diperingati di setiap Hari Jadi Kota Kediri. Prosesi Manusuk Sima sendiri ibarat napak tilas pada lahirnya kota penuh sejarah ini. Diawali dengan kirab prasasti oleh para seniman dan budayawan menuju panggung yang telah disediakan untuk berlangsungnya prosesi inti. 

Setelah itu, kemudian dibacakan naskah jawa yang menggambarkan awal mula Kediri dan prosesi Manusuk Sima itu juga diiringi dengan tarian-tarian yang kental dengan tradisi di Kediri.