
Namun selain mengenakan busana batik, ada cara-cara unik yang dikembangkan warga di berbagai daerah untuk menyambut Hari Batik Nasional. Contohnya, bagaimana para pelajar menghiasi dinding sekolah mereka dengan kertas bermotif batik di SD Negeri Pesantren 2, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (1/10/2019).
Kegiatan menghias dinding ruang kelas sampai balkon sekolah dengan nuansa batik tersebut bertujuan untuk semakin memperkuat pengetahuan dan ketertarikan akan seni budaya batik bagi pelajar.
Berbeda dengan Kediri, nuansa menuju peringatan puncak Hari Batik Nasional di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diisi dengan demonstrasi membatik yang diikuti warga dan wisatawan saat Selasa Wagen atau Malioboro bebas kendaraan bermotor. Warga dan wisatawan nampak membatik dengan corak khas Yogyakarta, dan mereka nampak berjejer rapih di kawasan pedestrian Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (1/10/2019).
Pada bagian lain, sejumlah peserta mengikuti pawai batik di Jl Malioboro, Yogyakarta. Pawai yang dikuti ratusan peserta dari berbagai komunitas itu guna memperingati Hari Batik Nasional serta mengenang batik sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diakui oleh United Nations of Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) kategori warisan budaya tak-benda sejak 2009 silam.
Seperti dilansir wikipedia, sejarah batik di Indonesia terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang sampai kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah akhir abad 18 atau awal abad 19.
Teknik batik sendiri telah diketahui lebih dari 1.000 tahun, kemungkinan berasal dari Mesir kuno atau Sumeria. Teknik batik meluas di beberapa negara Afrika Barat seperti Nigeria, Kamerun, dan Mali, serta di Asia, seperti India, Sri Lanka, Bangladesh, Iran, Thailand, Malaysia dan Indonesia.
Hingga awal abad 20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar 1920.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu. Awalnya kegiatan membatik hanya terbatas dalam keraton saja dan batik dihasilkan untuk pakaian raja dan keluarga pemerintah berikut para pembesar. Oleh karena banyak dari pembesar tinggal di luar keraton, kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar dari keraton dan dihasilkan pula di tempatnya masing-masing.
Lama kelamaan kesenian batik ditiru oleh rakyat jelata dan selanjutnya meluas hingga menjadi pekerjaan kaum wanita rumah tangga untuk mengisi waktu luang mereka.
Bahan-bahan pewarna yang dipakai ketika membatik terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri.