
KBRN, Kediri: Untuk mendorong semangat masyarakat dalam berusaha di sektor industri halal, Bank Indonesia Perwakilan Kediri menghadirkan agenda Road To FEsyar (Festival Ekonomi Syariah) 2019.
Pada acara yang diadakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KpwBI) Kediri, Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Rizal Moelyana menyatakan, bahwa alasan bank sentral mengadakan festival ekonomi syariah, karena sebagaimana diketahui bahwa tujuan Bank Indonesia adalah mencapai kestabilan nilai rupiah.
Tugas untuk mencapai tujuan tersebut yaitu mengatur kebijakan moneter, mengatur sistem pembayaran dan yang terakhir stabilitas sistem keuangan.
"Nah, mengatur kebijakan moneter di Indonesia susah susah gampang karena negara ini masih berkembang. Efektivitas moneter ini bisa terwujud bila ekonominya sudah mapan," kata Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kediri, Rizal Moelyana, pada Road To FESyar 2019, di KPwBI Kediri, Sabtu (26/10/2019).
Dengan pengembangan ekonomi inilah, ungkap Rizal, Bank Indonesia hadir membantu pemerintah, eksekutif dan UMKM salah satunya juga dalam hal ekonomi syariah. Bank Indonesia pun menilai, bahwa ekonomi syariah kalau terus dijaga bisa mendorong menjadi pondasi tangguh di perekonomian nasional.
"Untuk itu secara rutin BI sejak 2014 sudah menyelenggarakan, Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) di Surabaya. Alhamdulillah, antusias pelaku ekonomi syariah nasional maupun internasional semakin tahun makin bertambah," katanya.
Pada saat ini, jelas dia, BI Kediri menggelar Road To FESyar yang diadakan selama satu hari, sebagai rangkaian agenda menyambut FESyar Indonesia 2019 yang akan terlaksana di Surabaya tanggal 6-9 November 2019. Dengan mengangkat tema "Mendorong Sinergi Integrasi Antar Pesantren dan Industri Halal dalam Pengembangan Ekononi Syariah" perhelatan ini meliputi agenda Shari'a Economic Forum dan Shari'a Fair.
"Cakupan kegiatan Shari'a Economic Forum bersifat lokal dan regional, dengan substansi pemberdayaan ekonomi syariah, pendalaman pasar keuangan syariah, serta edukasi ekonomi dan keuangan syariah. Sementara, cakupan kegiatan Shari'a Fair lebih fokus pada pencapaian kemajuan ekonomi syariah lokal dan regional," katanya.
Acara ini, tambah dia, juga diisi dengan Talkshow Interaktif bertema "Industri Halal, Prospektif" yang menghadirkan H. Ainul Yaqin selaku Sekretaris Umum MUI Jatim, dan Cecep M. Hakim selaku Asisten Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, serta Juara I Lomba Enterpreneur Muda Syariah Road To FESyar Kediri 2019, yang juga akan mewakili Kediri pada ajang Lomba Enterpreneur Muda Syariah FESyar Indonedia 2019.
"Pelaksanaan acara ini, juga ikut dimeriahkan penampilan kandidat juara Lomba Kesenian Daerah Islami dari wilayah kerja BI Kediri," katanya.
Pada kesempatan ini, Wakil Walikota Kediri, Lilik Muhibah, tampak membuka acara dan memberikan sambutan.
Lilik optimistis, tujuan kegiatan ini untuk mendukung pengembangan ekonomi syariah di daerah. Khususnya di Kota Kediri, yang notabene memiliki banyak lembaga pendidikan berupa pondok pesantren.
"Acara ini, kami harap bisa sebagai sarana sosialisasi dan edukasi sektor ekonomi islami untuk masyarakat Kota Kediri dan juga terutama bagi para pelaku UMKM di Kota Kediri. Apalagi, berbicara industri halal, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara dengan produk halal terbesar di dunia," kata Lilik.
Lilik meyakini, permintaan akan produk dan jasa halal terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk beragama muslim setiap tahunnya. Lantaran, permintaan akan produk halal tidak hanya datang dari kalangan muslim. Akan tetapi, juga kalangan non muslim, ini tentu sebuah peluang dan sekaligus tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha.
"Untuk itu, saya rasa sangat tepat bila ini dimulai dari Talkshow industri halal pada hari ini. Mudah-mudahan acara ini dapat membawa gebrakan baru dan pergerakan ekonomi islam yang positif di Indonesia khususnya di Kota Kediri ini," katanya.
Lebih lanjut, Lilik Muhibbah menjelaskan tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Kediri. Akhir-akhir ini, UMKM Kota Kediri terus berkembang, terlihat dari pemasarannya sudah skala nasional dan internasional. Selain itu, juga banyak bermunculan wirausahawan baru di Kota Kediri. Untuk itu pada wirausaha baru ini harus terus melakukan inovasi terhadap produknya agar bernilai jual tinggi dan harus bisa mengusai pasar nasional dan internasional dengan baik.
"Idealnya, mereka juga harus bisa memanfaatkan marketplace yang ada saat ini," katanya.
Turut hadir dalam acara ini Forkopimda Kota Kediri, perwakilan OJK, Ketua DPD LDII Kota Kediri, Usman Arif, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo dan Al Falah, serta sejumlah perwakilan universitas di Kota Kediri dan perbankan syariah di Kota Kediri.