LAYANI PEMBELI: Suyatmoko mengisi gelas plastik dengan es puter yang dia jual saat melayani pembeli dalam Festival Jamu, Es Puter, dan Rujak (23/2). (Iqbal Syahroni - radarkediri
Gang di salah satu RW itu ditutup sejak pagi. Gantinya, pedagang makanan dengan gerobak dorong ukuran kecil yang menempati. Meski tak berkeliling dagangan mereka laris manis hari itu.
Alunan lagu campursari terdengar dari ujung gang salah satu kampung di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, kemarin pagi (23/2). Lengkap dengan suara si pendendangnya. Terdengar hingga beberapa ratus meter dari tempat itu. Riuhnya bercampur dengan teriak dan gelak anak yang berlarian sepanjang jalan sempit yang sudah dipenuhi gerobak-gerobak dorong yang biasa digunakan pedagang makanan keliling.
Di sepanjang jalan kampung tempat jualannya. Mulai dari Gang 2 hingga ke arah selatan mendekati Masjid Agung Kota Kediri. Masuk wilayah RW 02 Kelurahan Kampungdalem. Gerbang utamanya bertemu langsung dengan Jalan Panglima Sudirman. Salah satu jalan padat di Kota Kediri karena merupakan kawasan bisnis.
Bila berjalan dari ujung gang hingga ke arah selatan, di depan rumah-rumah warga sudah dipenuhi meja yang berisi aneka makanan seperti nasi ramaes, pentol, serta jualan lainnya. Setelah itu ada juga gerobak dorong ukuran kecil berwarna biru. Gerobak-gerobak inilah yang terlihat khas. Karena biasa digunakan penjual es puter, rujak, maupun jamu.
Para pedagang itu sengaja berjualan di dalam gang. Rata-rata mereka adalah warga Kelurahan Kampungdalem. Kelurahan yang memang terkenal sebagai pusatnya penjual es puter, rujak, maupun jamu. Sebulan sekali, para pedagang itu ‘pulang kampung’ karena ikut Festival Jamu, Es Puter, dan Rujak.
“Beres-beres ini Mas. Sudar hampir habis,” ucap Tugini, pedagang jamu berusia 63 tahun yang ikut berdagang di festival bulanan itu.
Tugini mengaku berjualan sejak pagi. Dan pukul 09.30 itu dagangannya hampir habis.
Wanita yang sudah 49 tahun berjualan jamu ini, festival di kampungnya sudah berlangsung dua kali ini. Tapi dia mengaku baru pertama mendapat giliran berjualan. “Lumayan sudah habis. Jadi tak perlu keliling jualan lagi,” ucapnya semringah.
Di sebelahnya, Suyatmoko asyik meladeni bocah-bocah yang membeli es puternya. Ditingkahi ulah para bocah itu bermain lonceng kecil yang ada di gerobak dorong. Lelaki bertopi fedora itu tak terusik. Tetap menyendok es puter dan dimasukkan ke cup plastik. Kemudian disodorkan ke para bocah itu.
Moko, panggilan Suyatmoko, berkata bahwa dia sudah berjualan sejak pukul 08.00 WIB. “Ya ini saya juga baru pertama ikut. Bulan lalu saya keliling,” terangnya.
Setiap hari, warga Gang 2 RT 02 RW 02 itu sudah bersiap sejak pukul 06.00. Mempersiapkan rasa-rasa es yang akan dia jual. Biasanya dia berkeliling ke sudut-sudut kota. Tapi kemarin dia mendapat jatah berjualan di arena festival.
Menariknya, Moko mengaku tak menggunakan perasa dan pemanis buatan di es puternya. Bila hendak menjual es puter rasa stroberi dia terlebih dulu merebus buah tersebut. Setelah hancur ditambahi gula dan dilarutkan ke es puter yang disiapkan. Demikian pula bila menghadirkan rasa durian, cokelat, atau kacang hijau. “Biasanya dua kali sehari ganti varian rasa,” terangnya.
Lelaki 58 tahun itu berjualan es puter sejak setahun setelah kedatangannya di Kediri dari kota asalnya, Solo. “Pokoknya sampeyan belum lahir,” ujar Moko.
Ya, lelaki ini sejak 1979 berkeliling menjual es puter. Awalnya rutenya berubah-ubah. Hingga akhirnya dia bisa menentukan jalur yang paling menguntungkan. Dari Jalan Panglima Sudirman menuju Jalan Yos Sudarso, alan Mayjend Sungkono, Jalan Dhoho, kembali ke Jalan Panglima Sudirman.
Pernah ia mencoba menggunakan gerobak bersepeda namun ia tidak cocok. Baginya lebih enak berjalan kaki sembari mendorong gerobaknya. “Tetep enak jalan kaki, Mas,” imbuhnya.
Seperti halnya mayoritas warga Kampungdalem, jika Moko penjual es puter, istrinya adalah penjual jamu. Sartini, sang istri, juga berkeliling menjajakan jamu gendong. Tak berjalan kaki, tapi bersepeda.
Kepala Kelurahan Kampungdalem Rohmat Setyo Nugroho mengatakan, festival itu akan digelar sebulan sekali. “Pesertanya dari Kampungdalem semua. Bergantian, yang ikut bulan ini tak mendapat jatah bulan depannya,” jelasnya.