Antisipasi Wabah Penyakit BPBD Kampanye Hentikan Buang Bangkai Tikus di Jalan

Kediri Dalam Berita | 04/03/2020

WABAH : Adi Sutrisno, Kasi Pencegahan dan Siapsiaga Bencana BPBD Kota Kediri (Irfan Marzuki/duta.co)

 

KEDIRI|duta.co – Indonesia, dibalik julukan sebagai negara yang memiliki keindahan alam dan keanekaragam hayati yang khas ternyata memang memiliki potensi bencana di beberapa wilayahnya. Kota Kediri, dari data website kedirikota.go.id, disebutkan berpenduduk 292.768 jiwa di tahun 2018, juga tidak lepas akan terdampak oleh kemungkinan terjadi bencana alam.

Ditemui usai rapat koordinasi di Balai Kota Kediri, Adi Sutrisno, Kasi Pencegahan dan Siapsiaga Bencana BPBD Kota Kediri menjelaskan potensi bencana yang ada di wilayah Kota Kediri saja. Dimulai dari ujung barat kota, mulai Kelurahan Pojok yang berpotensi kering ketika kemarau,namun rawan longsor saat terjadi banjir.

Bergeser ke arah tengah dan timur kota, ada potensi angin kencang sesaat, kemudian kebakaran lahan kering juga gempa bumi. Untuk wilayah Kecamatan Mojoroto secara umum ada potensi likuifikasi. “Jangan lupa dampak erupsi Gunung Kelud tetap perlu diwaspadai dan wabah penyakit adalah termasuk bemcana. Termasuk wabah Dipteri beberapa waktu lalu sempat melanda Kediri meskipun hal tersebut juga menjadi KLB se-Jawa Timur,” terangnya.

Semua itu adalah informasi awal yang ada dalam Kajian Resiko Bencana di Kota Kediri secara keseluruhan. Namun secara umum, jelas Adi Sutrisno, potensi bencana di Kediri adalah tipe sedang. “Meskipun tidak perlu terlalu khawatir tapi masyarakat perlu waspada,” imbuhnya.

Mengenai bencana wabah penyakit, ada hal menarik yang disampaikan olehnya, bahwa kebiasaan warga Kota Kediri membuang bangkai tikus di tengah jalan. “Dengan media bangkai tikus bisa berpotensi menyebarkan wabah penyakit pes. Didukung dengan air hujan yang sering mengguyur deras hingga beberapa ruas jalan tergenang air,” terangnya.

 

Adapun terkait Program Tanggap Bencana Kota Kediri melibatkan lima komponen penting, yaitu pemerintah kota, pelaku usaha, masyarakat, media dan perguruan tinggi. Secara khusus Adi Sutrisno berpesan bahwa keberadaan media bisa memberikan Iklan Layanan Masyarakat. “Dimulai dengan hal-hal yang kecil seperti himbauan tidak membuang bangkai tikus di tengah jalan tadi,” ucapnya.

Berdasarkan data referensi didapatkan duta,co,  kondisi banjir atau hujan deras yang menyapu semua kotoran di jalan dan bisa menularkan penyakit. Apalagi jika di jalan ada sampah berpenyakit seperti bangkai tikus.

Diantaranya penyakit Leptospirosis, bakteri penyebab penyakit ini bertahan hidup di ginjal hewan peliharaan dan pengerat termasuk tikus. Saat urine atau pembuluh darah hewan, termasuk bangkai hewan yg dibuang dijalan, terpapar ke tanah dan air seperti saat banjir, bakteri Leptospira ini bisa menyerang manusia.

Sejarah dunia mengingatkan tentang Black Death, atau Maut Hitam pada abad ke 14 di kota London, Inggris. Sepertiga sampai duapertiga populasi manusia di benua Eropa berkurang karena wabah pes. Penyebabnya adalah bakteri yang dibawa oleh tikus rumah.

“Media yang juga sebagai bagian dari masyarakat, diharapkan aktif mengkampayekan kepada warga Kota Kediri untuk stop membuang bangkai tikus di jalan saat ini juga. Mari bersama saling menjaga kesehatan diri sendiri dan sesama warga,” jelas Kasi Pencegahan dan Siapsiaga Bencana BPBD Kota Kediri.