TANGGUH : Focus Group Discussion Tanggap Bencana bertempat di Aula Kantor Kecamatan Pesantren (Irfan Marzuki/duta.co)
KEDIRI|duta.co – Merespon kejadian bencana di Kota Kediri dan sebagai salah satu bentuk pencegahan dan kesiapsiagaan, BPBD Kota Kediri menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertempat di Aula Kantor Kecamatan Pesantren, Kamis (05/03). Mengambil tema ‘Review Peta Resiko Bencana dan Silaturahmi Pentahelix Penanggungan Bencana Tahun 2020’, menghadirkan narasumber Dadang Iqwandi, Kasi Pencegahan BPBD Provinsi Jawa Timur dan Mbah Darmo, Ketua Relawan Jangkar Kelud selama ini konsentrasi pada permasalahan bencana.
Hadir dalam acara di atas, Samsul Bahri MM, plt Kalaksa BPBD Kota Kediri, perwakilan Kodim 0809, Polres Kediri Kota, Tagana, perguruan tinggi, perusahaan swasta, relawan bencana dan perwakilan media. “Peserta ini dipilih untuk memenuhi lima komponen sesuai definisi Pentahelix. Yaitu pemerintah, dunia usaha, komunitas, media dan perguruan tinggi,” jelas Samsul Bahri.
Dalam materinya, Dadang Iqwandi, mengingatkan pentingnya sinergi pentahelix dalam tanggap bencana. Terkait materi Kajian Resiko Bencana (KRB) di Jawa Timur dijelaskan secara detail termasuk di wilayah Kota Kediri. “Kajian ini diukur per-pixel, yaitu ukuran 100 m kali 100 m. Dengan detil dipetakan potensi ancaman bencana dan kapasitas yang bisa menanggulangi per-pixel. Dari kajian tersebut didapat informasi bahwa tiga lokasi di Jawa timur memiliki ancaman likuifaksi, yaitu Lumajang, Jember dan Banyuwangi,” jelasnya.
Padahal, ditambahkannya dalam kajian sebelumnya di 2016 belum ada potensi tanah yang awalnya padat kemudian mencair atau disebut likuifaksi seperti yang pernah terjadi di Kota Palu Sulawesi. Dari data dimiliki BPBD, dari 12 ancaman bencana di Jawa Timur di KRB sebelumnya, kini menjadi bertambah satu dengan adanya potensi likuifaksi tersebut.
Data berikutnya terkait kejadian bencana di Jawa timur pada 2018 tercatat 392 kejadian kemudian meningkat menjadi 459 bencana di tahun 2019. “Namun korban meninggal dunia menurun dari 28 jiwa menjadi 15 jiwa dari 2018 ke 2019. Peningkatan kejadian bencana ini terutama disebabkan angin puting beliung yang meningkat dari 101 kejadian menjadi 209 kejadian, ini masih data dari tahun 2018 ke tahun 2019,” jelasnya.
Siklon Ferdinand pada tgl 27 Pebruari hingga 29 Februari kemarin, juga termasuk salah satu penyebab meningkatnya kejadian angin puting beliung.Untuk menghitung resiko bencana menggunakan konsep R = (H x V)/ C. R = Risk (Resiko), H = Hazard (Ancaman), V = Vurnerability (Kerentanan) dan C = Capacity (Kemapuan).
“Hasil kali nilai ancaman terhadap kerentanan, kemudian dibagi dengan kapasitas. Kapasitas ini meliputi kesiapsiagaan menghadapi bencana termasuk di dalamnya sumberdaya manusia, fasilitas dan sarana, rangkaian kegiatan siap siaga dan simulasi pencegahan. Semakin tinggi nilai C atau Kemampuan kapasitas, maka semakin kecil nilai resiko. Semakin besar nilai ancaman dan kerentanan, harus diikuti besarnya nilai kemampuan,” terang Kasi Pencegahan.
Salah satu bentuk untuk meningkatkan nilai kemampuan dengan dibentuknya Tim Siaga Bencana mulai dari tingkat RT, RW hingga desa. “Melakukan simulasi tanggap bencana, memasang rambu titik kumpul dan jalur evakuasi. Juga rencana dan SOP tanggap bencana. Hal ini sangat penting dilakukan karena dari KRB yang dilakukan khusus Kota Kediri,” terangnya.
Namun ada catatan harus dilakukan berdasarkan data, kelemahan Kota Kediri adalah :
- Pengkajian resiko dan perencanaan terpadu
- Perkuatan kesiapsiagaan dan penanganan darurat bencana
- Pengembangan sistem pemulihan bencana
“Ketiga parameter tersebut sangat kurang nilainya, yaitu 0-0,4. Artinya sangat perlu ditingkatkan lagi kemampuan komponen pentahelix di Kota Kediri untuk bersiap menghadapi bencana,” jelas Dadang memberikan rangkuman.
Lalu pemateri kedua Mbah Darmo mengajak peserta untuk berdiskusi membuat kajian resiko bencana dengan perbedaan kasus. Diantaranya banjir, tanah longsor dan kebakaran hutan atau lahan (Karhutla). “Peserta diminta memasukkan tiga siklus bencana, yaitu pecegahan, mitigasi dan pemulihan untuk masing – masing kondisi bencana,” terangnya.